sejarah industri kreatif

bagaimana revolusi industri memisahkan pembuat dan perancang

sejarah industri kreatif
I

Coba teman-teman lihat sekeliling sebentar. Perhatikan meja tempat kita menaruh kopi, baju yang sedang kita pakai, atau bahkan ponsel di genggaman kita saat ini. Pernahkah kita bertanya-tanya, siapa sebenarnya yang membuat barang-barang ini? Jawabannya mungkin agak rumit. Ada pabrik di satu benua yang merakitnya, tapi ada sekelompok orang di benua lain yang menggambarnya. Saat ini, perancang dan pembuat adalah dua entitas yang benar-benar terpisah. Kita menganggap ini hal yang sangat wajar. Padahal, kalau kita tarik mundur ke beberapa abad yang lalu, pemisahan ini adalah sebuah anomali besar dalam sejarah, yang diam-diam mengubah psikologi dan evolusi kita sebagai manusia.

II

Mari kita bayangkan hidup di era sebelum mesin uap mengubah dunia. Di masa itu, kalau kita butuh meja, kita akan datang ke seorang tukang kayu. Tukang kayu ini tidak hanya memotong balok. Dia memikirkan desainnya, memilih materialnya, memahatnya, hingga menggosoknya sampai halus. Dalam ilmu saraf kognitif, ada mekanisme luar biasa yang disebut hand-brain connection. Ketika tangan kita mengeksekusi apa yang dibayangkan oleh otak kita dari awal sampai akhir, sistem saraf kita akan melepaskan dopamin dalam jumlah besar. Ada rasa bangga, kepemilikan, dan kepuasan batin yang mendalam. Dulu, hampir semua manusia yang bekerja adalah seorang craftsman atau pengrajin. Proses membayangkan dan menciptakan menyatu dalam satu tubuh. Pekerjaan fisik adalah sekaligus pekerjaan kreatif. Namun, sebuah badai besar sedang berkumpul di cakrawala sejarah, bersiap untuk membelah tatanan otak dan tangan manusia.

III

Badai itu bernama Revolusi Industri. Tiba-tiba, mesin-mesin raksasa mengambil alih fungsi desa-desa pengrajin. Efisiensi diangkat menjadi tuhan baru. Di sinilah muncul seorang tokoh bernama Frederick Winslow Taylor yang membawa konsep Scientific Management. Taylor punya ide yang saat itu dianggap brilian, tapi secara psikologis sangat mematikan: pekerjaan harus dipecah menjadi tugas-tugas kecil yang berulang demi kecepatan produksi. Tidak boleh lagi ada tukang kayu yang melamun memikirkan desain kursi. Lalu, muncul pertanyaan besar. Kalau pekerja di pabrik hanya bertugas memutar satu baut yang sama selama dua belas jam sehari, lalu siapa yang memikirkan bentuk barangnya? Ke mana perginya proses kreatif yang dulu menjadi hak alami setiap pekerja? Apa yang terjadi pada kejiwaan manusia ketika mereka kehilangan kendali atas apa yang mereka buat dengan tangan mereka sendiri?

IV

Di titik inilah sejarah mencatat sebuah perceraian besar: perpisahan permanen antara sang perancang (designer) dan sang pembuat (maker). Inilah akar sejarah dari apa yang sekarang kita sebut sebagai "industri kreatif". Kreativitas, yang dulunya menyatu dengan keringat dan otot para pengrajin, tiba-tiba diangkat menjadi profesi eksklusif. Sekelompok kecil orang dibayar mahal untuk berpikir di studio bersih, sementara ribuan orang lainnya dibayar murah untuk sekadar melakukan di pabrik bising. Secara psikologis, ini melahirkan apa yang disebut sebagai alienation atau keterasingan kerja. Otak manusia purba kita tidak pernah berevolusi untuk menjadi sekrup dari sebuah mesin raksasa. Kita berevolusi untuk melihat hasil akhir dari jerih payah kita. Perceraian antara desain dan produksi ini membuat para pekerja pabrik kehilangan makna hidup. Di sisi lain, para desainer modern sering kali merasa karya mereka "kurang nyata" karena mereka tidak pernah menyentuh langsung material aslinya. Kedua kubu ini, tanpa sadar, sama-sama kehilangan separuh dari jiwa kemanusiaannya.

V

Sekarang kita bisa lebih mengerti mengapa banyak dari kita sering merasa kosong, meski sudah bekerja keras di depan laptop setiap hari. Kita mewarisi sistem industri yang membelah kodrat kognitif kita. Itulah sebabnya, saat akhir pekan tiba, banyak dari kita tiba-tiba punya dorongan kuat untuk ikut kelas merajut, merakit action figure, membuat tembikar, atau sekadar bereksperimen dengan resep masakan di dapur. Itu bukan sekadar tren hobi, teman-teman. Itu adalah cara otak kita melakukan penyembuhan diri. Itu adalah jeritan bawah sadar kita yang ingin menyatukan kembali sang perancang dan sang pembuat di dalam satu tubuh. Kita mungkin tidak bisa menghentikan laju kapitalisme atau meruntuhkan rantai pasok global modern. Tapi setidaknya kita sekarang sadar. Kita bisa mulai mencari ruang-ruang kecil di hidup kita sendiri, tempat kita bebas memikirkan sebuah ide, lalu menggunakan tangan kita sendiri untuk mewujudkannya menjadi nyata. Karena pada akhirnya, merasa utuh adalah hak asasi paling mendasar bagi pikiran manusia.